Kisah Mbah Sendrong yang Berusia 125 Tahun dan Hidup Sebatang Kara

Bantul – Seorang nenek di Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, yang usianya diperkirakan 125 tahun tinggal di gubuk sebatang kara. Nenek yang bernama Setro Dinomo atau akrab dipanggil Mbah Sendrong ini dirawat oleh warga sekitar.

Mbah Sendrong hanya menempati rumah kecil terbuat dari kayu-kayu yang tidak berlantai. Gubuk Mbah Sendrong berada di dusun Salakan, RT 02, Bangunjiwo, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Kondisinya sudah lumpuh namun bicaranya masih jelas terdengar.

Gubuk Mbah Sendrong sangat sederhana dan berukuran kecil. Tempat tidurnya hanya beralaskan kasur tanpa menggunakan ranjang. Nampak sebuah lampu tergantung dari aliran listrik tetangga.

Selama ini Mbah Sendrong dirawat oleh tetangganya. Seorang yang selalu merawat Mbah Sendrong adalah Ibu Linggar Yati (57) yang rumahnya berdekatan dengan gubuk Mbah Sendrong.

Linggar Yati menuturkan, Mbah Sendrong sudah ditinggal mati suaminya puluhan tahun lalu. Mbah Sendrong tidak memiliki anak kandung. Tetapi punya anak angkat namun tidak pernah mengunjungi Mbah Sendrong lagi. Sementara saudara-saudaranya sudah meninggal semua.

“Tidak ada yang merawat, saya tetangganya saya kasihan. Saya rawat, memandikan, memberikan makan. Warga sini juga guyub memberi bantuan,”kata Linggar di rumahnya, Senin (20/3/2017).

Ia menceritakan suka duka merawat nenek yang usianya sudah 125 tahun. Jika malam sering membunyi-bunyikan piring atau alat-alat yang ada didekatnya. Saat itu juga ia mendatangi, dan memberinya teh panas kesukaannya. Ibu Linggar mulai merawat Mbah Sendrong sejak 5 tahun lalu saat menjadi tetangga Mbah Sendrong.

Ia sendiri tidak tahu pasti berapa umurnya, tetapi dari warga sekitar sudah 125 tahun. Karena dokumen seperti akte tidak ada. Sementara di KTP dimudakan, karena warga tidak ada yang tau pasti. Teman-teman seangkatanya sudah meninggal semua.

“Mbah Sendrong lumpuh sekitar tahun 2015 sampai sekarang. Sejak saat itu ia tidak lagi berkegiatan, dan tidak ada yang merawat. Karena keluarganya tidak ada semua,” katanya.

Kisah Nenek Sendrong yang Berusia 125 Tahun dan Hidup Sebatang KaraFoto: Edzan Raharjo/detikcom

Mbah Sendrong dulunya berprofesi sebagai tukang pijat yang berjalan kaki kemana-mana sambil membawa tongkat. Menurut warga, Mbah Sendrong dulunya juga pernah sebagai tata rias pengantin.

Atas kesepakatan warga, Mbah Sendrong kemudian dibawa ke Panti Jompo sejak Senin tanggal 20 Maret 2017. Mbah Sendrong dirawat di panti sosial Tresna Werdha, Kasongan, Bangunjiwo, Kasihan, Bantul, DIY.

Sempat Ditolak Panti

Kepala Dusun Salakan, Bangunjiwo, Kasihan, Bantul, Pitoyo mengatakan selama inj warga bergotong royong dengan memberi bantuan yang diambil dari khas RT. Kemudian mendapat bantuan dari pemerintah sebesar Rp 200 ribu per bulan yang diambil setiap 4 bulan sekali.

Sebenarnya sejak tahun 2015 sudah didaftarkan ke panti jompo. Tetapi waktu itu tidak terima atau ditolak.

“Dulu sudah saya daftarkan di panti, tapi ditolak. Alasannya sudah nggak bisa aktifitas, tenaga panti kurang,” kata Pitoyo di rumah Mbah Sendrong.

Menurutnya, usia yang pasti tidak ada yang tahu. Karena seangkatanya sudah meninggal semua. Kemudian dokumen seperti akte tidak ada. Warga hanya tahu 125 tahunan. Mbah Sendrong adalah warga asli dusun setempat.

Menurutnya, uang bantuan baik yang dari pemerintah maupun warga digunakan untuk keperluan makan sehari-hari Mbah Sendrong. Kondisi Mbah Sendrong memang lumpuh tetapi untuk makannya cukup bagus.

Kisah Nenek Sendrong yang Berusia 125 Tahun dan Hidup Sebatang KaraFoto: Edzan Raharjo/detikcom

(van/try)

Kisah Mbah Sendrong yang Berusia
Kisah Mbah Sendrong yang Berusia
Kisah Mbah Sendrong yang Berusia
Kisah Mbah Sendrong yang Berusia
sumber: news.detik.com